KENDARI – Universitas Muhammadiyah Kendari melalui Unit Asrama Mahasiswa menggelar acara Festival Olahraga dan Seni Budaya yang spektakuler pada akhir pekan lalu. Kegiatan berskala besar ini melibatkan lebih dari 500 peserta yang tersebar dari berbagai program studi dan fakultas, mencerminkan komitmen institusi dalam mengembangkan potensi mahasiswa di luar akademik.
Festival yang diselenggarakan di halaman utama Asrama Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Bende, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, menciptakan antusiasme tinggi di kalangan penghuni asrama. Acara dua hari penuh ini menampilkan beragam cabang olahraga tradisional dan modern, serta pertunjukan seni budaya lokal yang memukau ribuan penonton.
Menurut data panitia yang dihimpun, kegiatan ini dirancang sebagai wadah apresiasi terhadap kreativitas dan keterampilan mahasiswa, sekaligus membangun solidaritas dan semangat kebersamaan di lingkungan asrama. Peserta berkompetisi dalam 12 cabang olahraga, mulai dari futsal, bola voli, basket, hingga pencak silat, badminton, tenis meja, dan cabang-cabang tradisional seperti tarik tambang dan lomba lari estafet.
“Kami percaya bahwa pengembangan mahasiswa tidak hanya terbatas pada aspek akademik semata. Kegiatan olahraga dan seni budaya merupakan bagian integral dari pembentukan karakter dan kepribadian mahasiswa yang komprehensif,” ujar Dr. H. Bambang Suryanto, S.E., M.M., Direktur Unit Asrama Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari, saat membuka acara Festival pada Jumat, 28 Maret 2026.
Dalam sambutannya yang disampaikan di depan peserta dan penonton yang memenuhi lapangan asrama, Direktur Asrama menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan akademik dan non-akademik. “Asrama bukan sekadar tempat menginap, melainkan sebuah komunitas pembelajaran yang holistik. Melalui festival ini, mahasiswa dapat mengeksplorasi bakat mereka, membangun jaringan sosial yang kuat, dan belajar nilai-nilai kerjasama,” tambahnya.
Pelaksanaan festival mencakup dua kategori utama: kompetisi olahraga dan pameran seni budaya. Pada cabang olahraga, setiap program studi membentuk delegasi tersendiri untuk berkompetisi. Pertandingan futsal menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu, dengan 16 tim yang berasal dari berbagai fakultas saling bersaing untuk meraih juara.
Sementara itu, cabang olahraga tradisional seperti pencak silat menampilkan demonstrasi spektakuler oleh anggota Unit Keolahragaan Asrama Mahasiswa. Para peserta menampilkan berbagai jurus dengan kostum tradisional yang elegan, memukau penonton dengan kombinasi sempurna antara kekuatan, keseimbangan, dan estetika gerakan.
“Dari segi olahraga, kami mencatat partisipasi yang melampaui target awal. Setiap fakultas yang kami ajak merespons dengan sangat antusias. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa kami masih memiliki semangat kompetitif yang tinggi dan keinginan untuk menunjukkan kemampuan mereka,” kata Hendra Wijaya, Koordinator Bidang Olahraga Asrama Mahasiswa, dalam wawancara setelah mengumumkan pemenang cabang bola voli putri.
Tidak kalah meriah adalah segmen seni budaya yang menampilkan kekayaan tradisi Indonesia. Mahasiswa dari berbagai daerah asal menampilkan tari tradisional, teater musikal, dan pertunjukan seni rupa. Mahasiswa dari Sulawesi Tenggara menampilkan tari Poco-Poco yang energik, sementara delegasi dari Jawa Barat membawakan tari Jaipong dengan gerakan yang luwes dan penuh ekspresi.
Performa yang paling dinanti-nantikan adalah pertunjukan Teater Mahasiswa “Cahaya Harapan,” sebuah karya drama original yang ditulis oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Teater ini mengangkat tema tentang perjuangan mahasiswa dalam menggapai mimpi sambil tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan integritas. Penampilan selama 45 menit ini berhasil menggerakkan emosi penonton hingga banyak yang terharu.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya pandai dalam teori, tetapi juga memiliki kreativitas dan kemampuan artistik yang luar biasa. Teater ini adalah hasil dari kerja keras selama tiga bulan dengan melibatkan 30 mahasiswa dari berbagai angkatan,” jelas Dewi Lestari, Ketua Panitia Seni Budaya Festival 2026, dengan bangga.
Peserta dari Program Studi Desain Grafis juga memamerkan karya-karya visual mereka yang inovatif, mulai dari poster, ilustrasi digital, hingga instalasi seni interaktif yang melibatkan partisipasi penonton. Salah satu karya berjudul “Harmoni Warna Nusantara” menampilkan integrasi warna-warna cerah yang mewakili keberagaman budaya Indonesia, mencuri perhatian ribuan pengunjung.
Kelengkapan festival ini juga meliputi standar keselamatan dan kesehatan yang ketat. Panitia menyediakan 10 pos kesehatan di berbagai titik dengan didukung oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat dan relawan dari Unit Kesehatan Asrama. “Kami memastikan setiap peserta dan penonton mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal. Keselamatan adalah prioritas utama kami,” ujar Dr. Siti Nurhaliza, S.K.M., M.P.H., Kepala Unit Kesehatan Asrama.
Dampak positif dari penyelenggaraan festival ini terasa nyata bagi komunitas kampus. Beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan mereka kesempatan emas untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini jarang mendapatkan eksposur. “Sebagai atlet futsal, biasanya saya hanya bermain dengan teman-teman saja. Melalui festival ini, saya bisa berkompetisi secara serius dan bertemu atlet-atlet dari fakultas lain. Ini sangat memotivasi saya untuk terus meningkatkan kemampuan,” kata Muhammad Rizki Pratama, mahasiswa Semester 4 Program Studi Teknik Mesin.
Sementara itu, bagi peserta seni budaya, festival ini menjadi platform untuk melestarikan tradisi lokal. “Kami dari Bugis memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian tari Pakarena. Festival ini memberi kami ruang untuk menampilkan budaya kami di depan ribuan orang. Ini berarti bahwa tradisi kami masih relevan dan dihargai,” ungkap Saidah Rahman, mahasiswi Semester 5 Program Studi Pendidikan Sejarah, yang menampilkan tari Pakarena bersama delapan penari lainnya.
Penyelenggaraan festival juga menciptakan efek ekonomi positif bagi sekitar asrama. Panitia menjalin kerjasama dengan UMKM lokal untuk menyediakan konsumsi peserta dan penonton, menciptakan peluang bisnis yang menguntungkan bagi pengusaha kecil di Kendari.
Mencermati kesuksesan festival ini, pihak asrama berencana untuk menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan yang tetap dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya. “Kami akan mengumpulkan evaluasi dari semua stakeholder untuk memperbaiki penyelenggaraan tahun depan. Kemungkinan kami akan memperluas cakupan kegiatan dan menambah cabang olahraga baru yang lebih beragam,” kata Dr. Bambang Suryanto dalam kesempatan terpisah.
Prestasi tertinggi dari festival ini adalah terbentuknya sense of belonging yang kuat di kalangan penghuni asrama. Mahasiswa dari berbagai latar belakang, asal daerah, dan program studi bersatu dalam semangat sportivitas dan apresiasi terhadap seni budaya. Ini sejalan dengan misi Universitas Muhammadiyah Kendari dalam menciptakan lingkungan kampus yang inklusif, progresif, dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.
Penutupan festival pada Minggu, 30 Maret 2026, ditandai dengan pemberian piala, medali, dan sertifikat kepada para pemenang. Acara ini juga menampilkan pertunjukan penutup spektakuler yang melibatkan seluruh peserta dalam satu kolaborasi seni akhir yang meriah.
Sebagai institusi pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kendari melalui Unit Asrama Mahasiswa telah menunjukkan komitmen yang serius dalam mengembangkan mahasiswa secara menyeluruh. Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 ini tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pembangunan karakter dan kompetensi non-akademik mahasiswa yang akan berdampak positif pada masa depan mereka.
Dengan terselenggaranya festival ini, diharapkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari semakin termotivasi untuk terus mengembangkan bakat dan potensi mereka, sekaligus menjadi akademisi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara jasmani dan kaya secara budaya.