KENDARI – Universitas Muhammadiyah Kendari terus menunjukkan komitmen terhadap pengembangan riset dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, inisiatif terbaru datang dari kolaborasi sinergis antara dosen dan mahasiswa yang meluncurkan proyek penelitian inovatif bernama “Eco-Smart Farming at Campus” di Unit Asrama Mahasiswa kampus, Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Rabu, 3 April 2026.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 50 mahasiswa dari berbagai program studi ini dirancang untuk mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan yang dapat diterapkan di lahan terbatas, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan lokal dan pengurangan emisi karbon. Proyek ambisius ini menandai babak baru dalam integrasi pembelajaran akademik dengan praktik lapangan yang relevan dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Sulawesi Tenggara.
Latar Belakang Penelitian yang Mendesak
Gagasan penelitian ini berawal dari observasi mendalam yang dilakukan oleh Tim Riset Bidang Pertanian Berkelanjutan Universitas Muhammadiyah Kendari selama enam bulan terakhir. Mereka menemukan bahwa lahan pertanian di sekitar wilayah Kendari mengalami degradasi signifikan akibat praktik pertanian konvensional yang tidak ramah lingkungan. Selain itu, tingkat ketergantungan pangan impor dari daerah lain masih sangat tinggi, mencapai 65 persen.
“Kami melihat adanya kesenjangan besar antara potensi sumber daya alam lokal dengan pemanfaatannya yang masih sangat terbatas,” ujar Dr. Ir. Suryanto Wijaya, M.Sc., Koordinator Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam wawancara khusus pada Selasa, 2 April 2026.
Wijaya menambahkan bahwa riset ini bukan hanya fokus pada aspek teknis pertanian semata, tetapi juga mengintegrasikan dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan. “Kami ingin mahasiswa kami belajar bahwa inovasi sejati harus multidisipliner dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat,” katanya dengan penuh antusiasme.
Desain dan Metodologi Penelitian
Proyek “Eco-Smart Farming at Campus” dirancang dengan pendekatan holistik yang menggabungkan teknologi pertanian modern dengan kearifan lokal. Penelitian ini berlokasi di lahan seluas 2 hektar di area Unit Asrama Mahasiswa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal.
Metodologi penelitian terdiri dari tiga fase utama. Pertama, fase persiapan dan pembangunan infrastruktur yang mencakup pembuatan sistem irigasi tetes otomatis berbasis sensor IoT (Internet of Things). Fase ini diperkirakan selesai pada akhir Mei 2026. Kedua, fase implementasi budidaya menggunakan teknik vertical farming dan aquaponics untuk memaksimalkan produksi dalam ruang terbatas. Ketiga, fase monitoring dan evaluasi yang akan berjalan selama dua tahun ke depan untuk mengukur dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial.
“Teknologi yang kami gunakan dirancang agar dapat dijangkau oleh petani lokal dengan budget terbatas. Kami tidak ingin menciptakan teknologi yang hanya eksklusif untuk kampus saja,” jelas Prof. Dr. Hasyim Latif, M.Agr., Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Kendari, yang juga menjadi salah satu peneliti utama proyek ini.
Latif menjelaskan bahwa sistem sensor yang digunakan terintegrasi dengan aplikasi mobile yang user-friendly sehingga dapat dipantau oleh petani secara real-time. “Setiap petani dapat mengetahui kondisi kelembaban tanah, suhu, dan nutrisi tanaman hanya melalui ponsel pintar mereka. Ini adalah demokratisasi teknologi dalam praktiknya,” ujarnya.
Melibatkan Mahasiswa dari Berbagai Disiplin Ilmu
Salah satu keunggulan penelitian ini terletak pada keterlibatan mahasiswa dari lima program studi yang berbeda. Tidak hanya Agribisnis, tetapi juga mahasiswa dari Program Studi Teknik Informatika, Teknik Elektro, Ekonomi Pembangunan, dan Manajemen Sumber Daya Manusia turut berkontribusi dalam penelitian ini.
Yudha Pratama, mahasiswa tingkat ketiga Program Studi Teknik Informatika yang menjadi ketua tim pengembangan aplikasi monitoring, menuturkan pengalamannya yang luar biasa. “Awalnya saya pikir ini hanya proyek tambahan, tetapi seiring waktu saya menyadari bahwa ini adalah pembelajaran paling konkret yang pernah saya dapatkan di kampus. Saya belajar bagaimana teknologi yang saya pelajari di kelas dapat langsung memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Yudha dengan antusias.
Sementara itu, Nur Aini, mahasiswa semester enam dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, fokus pada analisis kelayakan finansial dan model bisnis yang dapat diskalakan. “Kami sedang mengembangkan business plan yang nantinya dapat menjadi panduan bagi kelompok tani di Kendari. Data yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa sistem ini dapat meningkatkan profitabilitas hingga 45 persen dibandingkan dengan pertanian konvensional,” ungkapnya.
Dukungan Pimpinan Universitas
Rector Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. Ir. Muhammad Thaha Arif, S.T., M.T., memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif penelitian ini. Beliau menganggap proyek ini sejalan dengan visi universitas untuk menjadi institusi pendidikan yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat lokal.
“Universitas Muhammadiyah Kendari memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan berkelanjutan di wilayah Sulawesi Tenggara. Penelitian ‘Eco-Smart Farming at Campus’ adalah manifestasi konkret dari komitmen tersebut,” kata Rector Thaha dalam sambutan pembukaan acara peluncuran penelitian.
Lebih lanjut, Rector menjelaskan bahwa universitas telah mengalokasikan anggaran khusus sebesar 750 juta rupiah untuk mendukung penelitian ini selama tahun pertama. Dukungan ini tidak hanya mencakup aspek finansial, tetapi juga memfasilitasi kerjasama dengan institusi penelitian nasional dan internasional.
“Kami juga sedang memproses kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kualitas riset ini agar dapat dijadikan model untuk wilayah-wilayah lain di Indonesia timur,” tambah Rector Thaha.
Harapan Dampak Jangka Panjang
Para pemimpin penelitian ini memiliki optimisme tinggi bahwa proyek akan memberikan dampak signifikan dalam jangka menengah dan panjang. Setidaknya ada tiga dimensi dampak yang ingin dicapai: akademik, sosial-ekonomi, dan lingkungan.
Dari aspek akademik, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan minimal 10 publikasi di jurnal nasional terakreditasi dan 5 publikasi di jurnal internasional dalam dua tahun ke depan. “Kami juga berencana untuk mengembangkan kurikulum baru yang lebih integratif berdasarkan temuan-temuan penelitian ini,” kata Dr. Suryanto Wijaya.
Pada dimensi sosial-ekonomi, penelitian ini bertujuan untuk memberdayakan minimal 200 keluarga petani di wilayah Kendari dan sekitarnya melalui pelatihan dan pendampingan. Tim peneliti juga berkomitmen untuk mentransfer teknologi kepada setidaknya 50 kelompok tani dalam kurun waktu tiga tahun.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi ini tidak hanya tinggal di kampus, tetapi benar-benar sampai ke tangan petani yang membutuhkan. Oleh karena itu, kami sedang mengembangkan pusat pelatihan dan demonstrasi pertanian berkelanjutan yang akan dikelola secara berkelanjutan oleh komunitas lokal,” jelas Prof. Hasyim Latif.
Dari perspektif lingkungan, penelitian ini diproyeksikan dapat mengurangi penggunaan pestisida sintetis hingga 70 persen, meningkatkan kesuburan tanah melalui sistem aquaponics yang menghasilkan limbah organik berkualitas tinggi, serta mengurangi penggunaan air irigasi hingga 50 persen melalui sistem tetes otomatis berbasis sensor.
Tantangan dan Strategi Mitigasi
Tentu saja, perjalanan penelitian ini tidak tanpa tantangan. Dr. Suryanto Wijaya mengakui bahwa ada beberapa hambatan yang perlu diatasi dengan strategis.
“Tantangan pertama adalah aspek teknis, yaitu memastikan sistem IoT dapat bekerja secara optimal di kondisi iklim tropis Sulawesi Tenggara yang memiliki kelembaban tinggi. Kami sedang melakukan uji coba dengan berbagai sensor yang tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem,” ujarnya.
Tantangan kedua adalah aspek sosial. Tidak semua petani lokal memiliki literasi digital yang tinggi untuk mengoperasikan sistem berbasis aplikasi mobile. Untuk mengatasi ini, tim peneliti telah merancang protokol pelatihan yang intensif dan berkelanjutan. “Kami akan melatih ‘farmer champion’ di setiap kelompok tani yang akan menjadi multiplier dalam menyebarkan pengetahuan kepada petani lainnya,” jelasnya.
Tantangan ketiga adalah aspek keberlanjutan finansial. Untuk memastikan model bisnis ini dapat berjalan berkelanjutan, tim peneliti sedang mengeksplorasi berbagai sumber pembiayaan alternatif, termasuk dari dana CSR perusahaan dan program pendanaan untuk startup agroteknologi.
Kolaborasi Lintas Institusi
Keberhasilan proyek ini juga didukung oleh kolaborasi yang kuat dengan berbagai institusi eksternal. Universitas Muhammadiyah Kendari telah menjalin kerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara, Universitas Haluoleo sebagai universitas negeri terkemuka di wilayah, dan beberapa NGO lokal yang memiliki pengalaman dalam pemberdayaan petani.
“Kolaborasi ini penting karena membawa perspektif berbeda dan memperkuat kredibilitas penelitian kami di mata stakeholder lokal,” kata Dr. Suryanto Wijaya.
Selain itu, beberapa mahasiswa dari universitas mitra juga terlibat dalam penelitian ini sebagai bagian dari program pertukaran peneliti. Hal ini tidak hanya memperkaya metodologi penelitian, tetapi juga memperluas jaringan akademik yang bermanfaat bagi pertumbuhan ilmiah jangka panjang.
Penutup: Investasi Masa Depan
Peluncuran proyek “Eco-Smart Farming at Campus” pada 3 April 2026 menandai momentum penting bagi Universitas Muhammadiyah Kendari dalam memposisikan diri sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga berkontribusi aktif dalam mengatasi tantangan pembangunan berkelanjutan.
Penelitian inovatif ini merupakan bukti nyata bahwa universitas mampu menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat praktis. Melalui kolaborasi antara dosen dan mahasiswa yang genuine, serta dukungan penuh dari pimpinan universitas dan stakeholder eksternal, inovasi yang bermakna dapat tercipta.
Ke depannya, diharapkan penelitian ini dapat menjadi model replikasi untuk universitas-universitas lain di Indonesia timur, dan kontribusi konkret Universitas Muhammadiyah Kendari terhadap pembangunan berkelanjutan Sulawesi Tenggara semakin nyata dan terukur. Seperti yang diucapkan oleh Rector Muhammad Thaha Arif, “Universitas kami tidak hanya membangun sarjana, tetapi membangun solusi untuk masa depan yang lebih baik.”
Editor: Redaksi Kampus
Fotografer: Dokumentasi Unit Asrama Mahasiswa UMKK